Di balik melemahnya rupiah
Rupiah mencapai titik terlemah baru terhadap dolar Amerika
serikat (AS) pasca pelemahan yang terjadi saat krisis moneter pada 1998.
Meskipun demikian keadaan yang sangat berbeda dengan 1998. Saat itu Indonesia
dilanda kepanikan, rupiah bergerak melemah dengan tajan ke area 17.000 per
dolar AS dalam hitungan bulan dari kisaran US$ 4.500
Cadangan devisa idonesia pun hanya tersisa sekitar US$ 14 triliun sehingga bank Indonesia (Bi) tidak
berdaya menahan laju pelemahan rupiah tersebut. Pelemahan rupiah ketika itu
berimbas pada kepanikan di dalam negeri yang membuat rakyat keholangan
keyakinan terhadap ekonomi Indonesia dan terjadi rush (penarikan
besar-besasran) di perbankan .
Sementara iu juga terjadi kontraksi produk dmestik bruto
(PDB) yang cukup dalam sekitar dalam sekitar 13 persen. Sementara tahun ini,
pelemahan rupiah tidak bergerak drastic tapi perlahan. Sedangkan cadangan
devisa Indonesia masih tersisa sekitar US$ 114,8 milliar atau lebih rendah
dari agustus sebesar US$ 117,9 miliar.
Tidak ada kepanikan dan rush di perbankan. Ekoomi Indonesia masih bertumbuh.
Situasi yang berbeda ini bukan berarti kita tidak perlu waspada, tetapi juga
kita perlu panik.
Pelemahan nilai tukar rupiah tidak sendirian. Nilai tukar
negara-negara lain pun melemah tajam terhadap dolar as di sepanjang 2018.
Rupiah bukanlah yang terlemah. Masih ada yang lebih lemah dari rupiah seperti
Swedish crown juga melemah 10 persen, dolar Australia juga melemah 6 persen
jadi seluruh dunia melemah terhadap dolar AS, jelas deputi gubernur senior BI
Mirza Adityaswara, jumat (31/8/2018)
Dengan kenyataan ini, kelihatannya bukan hanya factor
fundamental Indonesia saja yang memuat rupiah melemah, tapi juga factor
eksternalitas yaitu potensi kenikan bunga acuan bank sentral amerika serikat
atau the federal reseve (the fed).

Komentar
Posting Komentar